Pengalaman pribadi saya ketika saya baru saja diterima di FMIPA Fisika UGM, yang saya lakukan langsung masuk ke perpustakaan mendaftar menjadi anggota perpustakaan. Kemudian saya meminjam buku tebal berbahasa Inggris yang berjudul Physics. Pada hal saya tidak dapat memahami bahasa Inggris dengan baik ketika itu. Buku itu, ketika saya naik bus kota, satu-satunya buku yang tidak saya masukkan dalam ransel. Buku itu sengaja saya perlihatkan kepada penumpang bus yang lain, saya seakan-akan membaca sambil mengangguk-anggukan kepala seakan-akan memahami yang saya baca. Pada hal, saya tidak tahu sama sekali yang saya baca tersebut, maklum baru mahasiswa tingkat pertama. Tujuan saya ketika itu, supaya dipandang oleh penumpang bus yang lainnya, seperti anak pinter, tetapi kenyataannya tidak bisa apa-apa. Setelah saya turun dari bus, saya tersenyum sendiri atas kelakuan saya yang sok pinter tersebut. Saya menyadari bahwa dengan cara tersebut saya tidak akan belajar fisika dengan baik. Akhirnya saya menyederhanakan buku yang tebal tersebut dengan meringkas rumus-rumusnya dan ternyata terbukti manjur. Saya bersemangat untuk belajar fisika dengan menghafalkan rumus-rumus yang saya sederhanakan hanya sekitar 5 halaman dari buku yang tebal berbahasa Inggris. Setelah ujian mata kuliah fisika, saya mendapat nilai A.
Demikian pula ketika saya menangani beberapa institusi atau perusahaan yang akan mati. Masalahnya begitu rumit, tetapi biasanya saya sederhanakan. Kadangkala saya hanya membenahi pemasarannya saja, ternyata institusi atau perusahaan sudah dapat bangkit kembali dari keterpurukan. Hukum pareto mengatakan bahwa 80% masalah itu sesungguhnya hanya disebabkan oleh 20%. Dengan menyelesaikan yang 20%, maka masalah tersebut dapat terselesaikan semuanya. Selamat mencoba.



